Polusi Udara Pengaruhi Berat Lahir Bayi

0



TINGGAL di kota metropolitan memang menguntungkan. Segala yang mewah dan modern tersedia dengan mudah. Apapun yang Anda mau, sepertinya akan tersedia di sana. Masa depan yang cerah juga menjadi mimpi yang indah bagi sebagian orang.

Di samping keuntungan tersebut, ada bahaya yang mengancam juga, lho. Dan hal ini dirasakan setiap hari dalam aktivitas Anda, khususnya yang bekerja di outdoor. Polusi udara. Masalah ini muncul karena semakin sibuknya manusia dan mesin, dan itu pun akhirnya berimbas pada kesehatan manusia.

Pada beberapa referensi dengan tegas menjelaskan bahwa polusi udara yang memengaruhi kesehatan manusia cukup besar. Paparan polusi udara yang terjadi terus menerus akan berdampak serius, salah satunya kanker paru-paru atau juga masalah kesehatan lainnya yang berhubungan dengan sistem pernapasan maupun kekebalan tubuh.

Dilansir dari New Yorkt Times, polusi udara berdampak langsung pada ibu hamil maupun anak yang baru dilahirkannya. Periset di London menghitung paparan polusi dan kebisingan lalu lintas terhadap ibu hamil di berbagai wilayah di kota ini dari 2006 sampai 2010.

Peneliti juga mengumpulkan data tentang bobot lahir dari 540.365 bayi yang lahir selama tahun-tahun tersebut dari perempuan yang hidup di kota sibuk.

(Baca Juga: Melahirkan Operasi Caesar Bayi Cenderung Alami Kegemukan, Benarkah?)

Hasil dari penelitian ini cukup mengagetkan. Pasalnya, paparan polusi rata-rata adalah 14 mikrogram per meter kubik PM 2.5, yang mana dengan kondisi tersebut partikel polusi bisa masuk dengan mudah ke tubuh manusia.

Para peneliti menemukan bahwa untuk setiap kenaikan 5 mikrogram per meter kubik di PM 2.5, risiko berat lahir rendah meningkat sebesar 15 persen. Berat lahir rendah merupakan prediktor peningkatan risiko diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi di kemudian hari.

Sementara itu, penelitian di BMJ tidak menemukan pengaruh kebisingan lalu lintas terhadap berat lahir. Standar Badan Perlindungan Lingkungan untuk PM 2.5 adalah 12 mikrogram per meter kubik rata-rata selama tiga tahun, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan 10 sebagai batas.

(Baca Juga: 6 Perbedaan Tanda-Tanda Menstruasi dengan Hamil Muda)

Namun Mireille B. Toledano, seorang ahli epidemiologi di Imperial College London, mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada tingkat polusi udara yang aman di kota besar mana pun.

“Kita dapat mencegah 90 bayi dilahirkan dengan berat lahir rendah di London. Batas saat ini tidak melindungi wanita hamil dan mereka tidak melindungi bayi yang belum lahir,” ungkapnya.

Sebab, tidak ada ruang sehat lagi yang tersedia di kota metropolitan yang kesibukannya seperti tidak ada hentinya. (tam)

(ren)

Link Sumber

Baca Berita Ini Juga:

Sprinkle Perak Hanya Dekorasi Tak Untuk Dimakan Jakarta, -- Siapa yang tak bakal tergoda dengan aneka kue kering dengan warna-warni cantik di pesta Natal? Sekalipun tergoda, An...
Hadapi Wabah Difteri, Kemenkes Siapkan 3,5 Juta Vaksin Jakarta, -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengaku telah menyiapkan sebanyak 3,5 juta vial (botol) vaksin difteri. Menteri Kes...
Ivan Gunawan Putuskan Berhenti Rancang Gaun Untuk Kontes Kecantikan Nurul Hanna    JAKARTA - Desainer sekaligus presenter Ivan Gunawan, berencana akan merilis sejumlah produk kosmetik pada 2018 me...

No comments