Imunisasi Vaksin MR Melebihi Target

0


Jakarta: Imunisasi vaksin Measles Rubella (MR) diklaim melebihi target pemerintah. Untuk Agustus 2017, penetapan capaian yakni 35% imunisasi.

Namun saat ini sudah dilakukan 38,5% imunisasi MR untuk anak-anak di Tanah Air. “Alhamdulilah animo masyarakat untuk imunisasi cukup besar. Tetapi yang harus terus kita monitoring adalah kemungkinan terjadinya hal-hal yang sifatnya penolakan,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh melalui pesan singkat, Selasa 15 Agustus 2017.

Pun demikian masih banyak berita miring terkait vaksin tersebut, seperti kelumpuhan pascaimunisasi. Padahal, kejadian itu tak semata-mata disebabkan oleh vaksin MR. Sebab selama ini gejala yang muncul hanya demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat bekas suntikan.

Gejala setelah imunisasi itu adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kejadian pasca imunisasi yang serius sangat jarang terjadi. Subuh menyebut, seharusnya ada konfirmasi dan klarifikasi terlebih dahulu terkait hal ini.

“Kalau ada kejadian pasca imunisasi di kabupaten maka dinas kabupaten harus melaporkannya kurang dari 24 jam,” kata Subuh.

Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hindra Irawan Satari menegaskan bahwa sakit seperti demam pada anak pascavaksinasi bisa saja terjadi namun hal itu tak perlu dikhawatirkan.  

“Memang akan demam, biasanya bervariasi tergantung kondisi anak. Tetapi tidak ada yang berlangsung lebih dari 24 jam. Kalau lebih kemungkinan anaknya sudah sakit lebih dahulu,” ujarnya.

Menurut Hindra, pada dasarnya vaksin bisa berasal dari bakteri, virus, atau kuman yang dilemahkan. Kadang sifat kuman itu masih terkandung dalam vaksin dan menjadi penyebab bayi atau anak demam. Namun, Hindra memastikan tidak ada demam yang terjadi berhari-hari lantaran vaksin.

“Vaksin itu aman,” tegas Hindra.

Hindra mengatakan pemberian vaksin apapun yang khusus diberikan pada bayi maupun anak-anak dipastikan aman. Termasuk jika vaksin diberikan secara bersamaan. Misalnya, pemberian vaksin DPT digabung dengan vaksin polio, campak atau vaksin-vaksin lain.

Menurut Hindra, pemberian vaksin ganda masih lebih kecil dibandingkan dengan paparan kuman di permukaan tubuh yang didapatkan oleh setiap orang setiap harinya.

“Kita terpapar tetapi dengan dosis yang rendah dan tidak menderita sakit. Jadi hanya beberapa komponen saja dibandingkan dengan yang kita alami sehari-hari. Karena tubuh mampu membaca, menangkap, menetralisir dan mampu membentuk imun sistem,” katanya.

Andai seorang anak atau balita terlambat untuk mendapatkan imunisasi dasar, Hindra tetap mengimbau para orang tua untuk membawa anaknya ke fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan. Tidak ada efek negatif jika anak terlambat mendapatkan imunisasi atau belum melengkapi imunisasi dasar.

“Enggak ada istilah terlambat. Kapanpun selama anak itu sehat segera datang. Kalau ada bukunya diperlihatkan kemudian dilanjutkan, semua bisa diselesaikan. Lebih cepat lebih baik,” pungkasnya.

(DRI)

Link Sumber

Baca Berita Ini Juga:

Putri Novanto tak Menghadiri Panggilan KPK Jakarta: Putri Ketua DPR Setya Novanto, Dwina Michaella, dipastikan tak menghadiri panggilan Komisi Pemberantasan Korup...
Usai Resmikan Bandara Silangit, Jokowi Bagikan S Presiden Joko Widodo meminta warga menunjukkan sertifikat tanah yang diterima saat penyerahan sertifikat se-Tangerang Raya di Tangerang...
Soal Viktor, Polri Masih akan Periksa Saksi Ahli Bahasa JAKARTA -- Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, Polri masih akan melakukan pemeriksaan saksi lagi terkait kas...
Jokowi Resmikan Terminal Bandara Internasional Silangit JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi ini, Jumat (24/11), bertolak menuju Bandar Udara Internasional Silangit, Kecamatan Siborong-Bor...

No comments