Sektor Migas Lesu, Pekerja Hijrah ke Bank Hingga Online Shop

0

Jakarta, — Harga minyak yang melandai sejak akhir 2014 silam membuat perusahaan minyak dan gas bumi melakukan serangkaian efisiensi. Salah satu efisiensi yang dilakukan adalah dengan mengurangi jumlah investasi serta pengurangan tenaga kerja.

Direktur Indonesian Petroleum Association (IPA) Ignatius Tenny Wibowo mengatakan, pemangkasan tenaga kerja adalah salah satu hal terberat yang perlu dilakukan perusahaan migas.

Di dalam melakukan pengurangan tenaga kerja, perusahaan migas pertama-tama mengurangi tenaga kerja kontrak, di mana proses admnistrasinya lebih mudah. Namun menurutnya, bukan berarti masalah langsung beres ketika perusahaan migas memberhentikan tenaga kerja.

“Dengan angka investasi yang menurun drastis, contohnya investasi migas kan menurun 50 persen dalam dua tahun terakhir, ini akan memberi impact seberapa cepat kami bisa hire yang baru. Menurunnya aktivitas ini mau tidak mau mengurangi kemampuan penyerapan tenaga kerja yang ada,” ujar Tenny di helatan Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex 2017, Jumat (19/5).

Pria yang menjabat sebagai General Manager Santos Indonesia itu menyayangkan kondisi tersebut karena pendidikan yang ditempuh untuk menjadi ahli perminyakan tidak mudah. Tak hanya itu, pengalaman yang dibutuhkan pun tidak sedikit, sehingga tak heran banyak ahli perminyakan dalam negeri yang melanglang buana ke luar negeri.

“Padahal, banyak yang menjadikan Indonesia sebagai training ground sebelum berkarir ke luar negeri,” lanjutnya.

Tentu saja, tenaga kerja yang terpaksa diberhentikan mau tak mau menikmati status sebagai pengangguran. Namun, ada juga beberapa orang yang beralih ke profesi lain.

Sektor Migas Lesu, Pekerja Hijrah ke Bank Hingga Online ShopIlustrasi pekerja sektor migas. (/Adhi Wicaksono)

Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Tutuka Ariadji mengatakan, banyak ahli teknik perminyakan yang pindah haluan bekerja di sektor perbankan, asuransi, dan sektor lainnya di luar perminyakan. Bahkan menurutnya, ada pula yang bekerja di organisasi sosial tanpa digaji.

Sayangnya, ia tak bisa memberikan angka pasti jumlah insinyur perminyakan yang kena pemutusan hubungan kerja karena angkanya berbeda-beda di tiap perusahaan. Namun, rata-rata perusahaan memangkas 10 persen dari jumlah insinyur perminyakan yang dimilikinya.

“Ada yang kerja ke sektor lain, ada juga yang setia di jalur teknik perminyakan meski belum ada companies-nya,” ujar Tutuka di lokasi yang sama.

Ia melanjutkan, insinyur perminyakan sebelumnya pernah mengalami kondisi serupa antara tahun 1992 hingga 2000, di mana harga minyak berkisar antara US$15 hingga US$20 per barel. Berkaca pada pengalaman itu, Tutuka mengatakan bahwa bertahan hidup sudah menjadi insting insinyur perminyakan. Kendati demikian, ia berharap kondisi ini bisa berubah secepatnya.

“Kami hanya berharap nanti teknik perminyakan bisa berkembang ke pemanfaatan yang lebih luas lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Rusalinda Raguwati juga merasakan hal serupa. Menurutnya, banyak ahli geofisika yang beralih profesi dari sektor migas selepas sektor migas terhempas harga minyak yang terjun bebas.

Ia juga belum mendapat informasi lengkap ihwal jumlah ahli geofisika yang dirumahkan. Tetapi menurutnya, banyak ahli geofisika yang berganti profesi jadi pengajar hingga membuka usaha toko daring (online shop) selepas dirumahkan.

“Tapi, kami beruntung karena kan geofisika ini peruntukkannya luas, tidak hanya bisa ke migas saja. Maka banyak juga ahli geofisika beralih ke bidang penelitian selepas dari perusahaan migas. Namun, tidak menutup kemungkinan beralih profesi kan,” jelas Rusalinda.

Harga minyak yang rendah membuat investasi migas melemah. Pada tahun lalu, dengan rata-rata harga minyak US$40,22 per barel, investasi hulu migas mencapai US$11,2 miliar. Angka ini menurun dibanding tahun sebelumnya, di mana harga minyak US$49,35 per barel membawa investasi hulu migas US$15,3 miliar. (gir)

Link Sumber

Baca Berita Ini Juga:

Penjualan Lesu, Peritel Dorong Efisiensi Jakarta, -- Lesunya penjualan pada tahun ini membuat para pengusaha ritel mulai 'mengencangkan ikat pingga...
Libur Lebaran, Pedagang Pasar Gembrong Raup Omzet Belasan Juta Jakarta - Libur Lebaran menjadi momen para pedagang di Pasar Gembrong mendulang omzet berlipat. Apalagi, libur Lebaran kali ini berbarengan dengan...

No comments